Malang - Pembelajaran kebudayaan Jawa di SMA Widya Dharma Turen menghadirkan pengalaman belajar yang kreatif dan bermakna melalui kegiatan pementasan wayang bertajuk “Critaku, Wayangku” oleh siswa kelas X. Kegiatan ini menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal seni pertunjukan wayang sekaligus mempraktikkan keterampilan mendalang melalui kegiatan bercerita dengan menggunakan peraga berbentuk wayang.

Berbeda dengan pementasan wayang pada umumnya yang identik dengan kisah-kisah klasik seperti Mahabharata dan Ramayana, kegiatan ini memberikan ruang kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan cerita sesuai dengan kreativitas dan imajinasi masing-masing. Siswa dapat mengangkat berbagai kisah, mulai dari cerita rakyat, legenda daerah, pengalaman kehidupan sehari-hari, hingga cerita kreasi sendiri yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai kehidupan.

Kebebasan dalam menentukan cerita tersebut bukan tanpa alasan. Kegiatan ini dirancang dengan menyesuaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Fokus utamanya bukan semata-mata pada penguasaan cerita pewayangan klasik, melainkan pada kemampuan siswa dalam memperagakan dan mempraktikkan peran seorang dalang. Oleh karena itu, cerita yang dibawakan tidak harus berasal dari kisah Mahabharata maupun Ramayana, selama siswa mampu menyampaikan cerita melalui peraga wayang dan menunjukkan keterampilan bercerita sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Melalui kegiatan “Critaku, Wayangku”, siswa memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai keterampilan dasar dalam pertunjukan wayang. Mereka berlatih menggerakkan peraga, membangun alur cerita, mengembangkan dialog antar tokoh, mengatur intonasi suara, serta menyampaikan cerita agar dapat dipahami oleh penonton. Proses tersebut memberikan pengalaman kepada siswa tentang bagaimana seorang dalang tidak hanya memainkan tokoh wayang, tetapi juga menghidupkan cerita melalui suara, gerakan, ekspresi, dan kemampuan membangun suasana pertunjukan.

Selain keterampilan teknis, kegiatan ini juga mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan berkomunikasi. Dalam menyusun cerita, siswa dituntut untuk menentukan tokoh, membangun konflik, menyusun rangkaian peristiwa, serta menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Dengan demikian, pembelajaran wayang juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir kreatif, dan menyampaikan gagasan secara runtut.

Pendekatan pembelajaran yang memberikan kebebasan berekspresi ini diharapkan dapat membuat siswa lebih dekat dengan seni pertunjukan wayang. Wayang tidak hanya dipandang sebagai kesenian tradisional yang memiliki aturan dan pakem tertentu, tetapi juga sebagai media bercerita yang dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai gagasan dan pesan kehidupan. Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa unsur penting dalam pembelajaran ini adalah keterampilan memainkan peraga dan membawakan cerita, dengan tetap menghargai nilai-nilai budaya yang melekat pada seni wayang.

Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan Jawa. Dengan terlibat langsung dalam proses pementasan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoretis, tetapi juga merasakan pengalaman dalam mempraktikkan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi terhadap peran dalang sebagai seniman yang memiliki kemampuan bercerita, menghidupkan tokoh, serta menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui pertunjukan wayang.

Melalui kegiatan “Critaku, Wayangku”, pembelajaran diharapkan menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, dan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Siswa diberikan ruang untuk menunjukkan kemampuan masing-masing, mengembangkan ide cerita, serta belajar melalui praktik secara langsung. Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa pembelajaran yang baik tidak hanya berorientasi pada materi yang dipelajari, tetapi juga pada keterampilan yang perlu dikuasai oleh siswa.

SMA Widya Dharma Turen terus berupaya menghadirkan pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada siswa, termasuk melalui pengenalan dan praktik seni budaya daerah. Kegiatan pementasan wayang ini menjadi salah satu wujud pembelajaran yang menggabungkan kreativitas, keterampilan berbahasa, keberanian berekspresi, dan apresiasi terhadap warisan budaya bangsa.

Melalui semangat “Critaku, Wayangku”, siswa kelas X diajak untuk mengenal wayang dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka: bercerita, berkreasi, dan belajar menjadi dalang melalui praktik secara langsung. Harapannya, pengalaman ini tidak hanya meningkatkan keterampilan siswa dalam mendalang, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa kebudayaan dapat terus dipelajari, dikembangkan, dan dilestarikan melalui cara-cara kreatif yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Bagikan Artikel: