Malang— Literasi tidak selalu harus berakhir pada lembaran tulisan. Di SMA Widya Dharma Turen, kegiatan literasi dikembangkan menjadi ruang bagi siswa untuk membaca, mencari informasi, menggali pengetahuan, sekaligus menuangkan gagasan dalam bentuk karya kreatif. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan literasi siswa kelas XII yang mengangkat tema budaya dan kearifan lokal dengan produk akhir berupa poster yang kemudian dipamerkan di mading sekolah.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran literasi yang mendorong siswa untuk lebih dekat dengan lingkungan dan kekayaan budaya yang ada di sekitar mereka. Melalui tema budaya dan kearifan lokal, siswa diajak untuk menyadari bahwa berbagai tradisi, kesenian, bahasa, kebiasaan, hingga nilai-nilai kehidupan yang tumbuh di masyarakat merupakan bagian penting dari identitas budaya yang patut dikenali dan dilestarikan.

Dalam prosesnya, siswa terlebih dahulu melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai sumber informasi yang berkaitan dengan budaya serta kearifan lokal. Informasi yang diperoleh kemudian dipilah dan diolah untuk menemukan gagasan utama yang menarik untuk disampaikan kepada pembaca.

Siswa kemudian mengembangkan informasi tersebut menjadi sebuah karya visual. Mereka menyusun pesan, menentukan judul, memilih informasi penting, serta memadukan unsur tulisan dan visual agar poster yang dihasilkan dapat menyampaikan pesan secara singkat, jelas, dan menarik.

Menariknya, setiap karya menunjukkan sudut pandang dan kreativitas yang berbeda. Ada siswa yang menonjolkan keunikan budaya daerah, nilai-nilai kearifan masyarakat, tradisi, kesenian, hingga berbagai bentuk budaya lokal yang mulai jarang diperhatikan oleh generasi muda.

Proses tersebut menjadikan kegiatan literasi terasa lebih dekat dengan kehidupan siswa. Mereka tidak hanya membaca tentang budaya sebagai sebuah materi pengetahuan, tetapi juga diajak untuk bertanya: budaya apa yang ada di sekitar kita, apa maknanya, dan mengapa budaya tersebut perlu dikenal oleh generasi sekarang?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian lahir berbagai gagasan yang dituangkan ke dalam poster. Karya yang dihasilkan menjadi bukti bahwa kegiatan literasi dapat dikembangkan menjadi aktivitas yang kreatif dan produktif.

Setelah melalui proses penyusunan dan penyelesaian, poster karya siswa kelas XII kemudian dipajang di mading sekolah. Mading pun berubah menjadi ruang apresiasi yang mempertemukan hasil literasi siswa dengan warga sekolah lainnya. Setiap poster menjadi media untuk berbagi informasi sekaligus mengajak pembaca mengenal kembali berbagai kekayaan budaya dan kearifan lokal.

Kehadiran karya tersebut juga memberikan warna baru bagi lingkungan sekolah. Mading tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan kreativitas, gagasan, dan hasil belajar siswa.

Melalui kegiatan literasi bertema budaya dan kearifan lokal ini, siswa kelas XII SMA Widya Dharma Turen juga belajar bahwa menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar. Mengenal, membaca, mendokumentasikan, menceritakan, dan memperkenalkan kembali budaya kepada orang lain merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh generasi muda.

Kegiatan ini menjadi salah satu wujud komitmen SMA Widya Dharma Turen dalam membangun budaya literasi yang aktif, kreatif, kontekstual, dan menghasilkan karya. Sebab, literasi bukan hanya tentang seberapa banyak yang dibaca, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan tersebut mampu melahirkan gagasan dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Dari budaya yang dibaca, lahir pengetahuan. Dari pengetahuan yang diolah, lahir gagasan. Dan dari gagasan yang diwujudkan, lahirlah karya siswa SMA Widya Dharma Turen.

Bagikan Artikel: